Kompas - Parodi - "Papa"
Jul. 22nd, 2008 | 09:19 am
Papa
Minggu, 20 Juli 2008 | 01:39 WIB
Samuel Mulia
Dua minggu lalu, di suatu sore saya kedatangan tamu, teman lama semasa
di sekolah menengah pertama. Ia mengajak beberapa temannya. Seorang
wanita yang adalah kakak kelas kami dengan putrinya yang berusia 15
tahun, seorang ibu, dan seorang pria muda tampan berusia 21 tahun.
Pria muda yang kalau saya tawarkan ke dunia sinetron dan model, pasti
langsung melejit. Putih, imut dengan badan yang indah. Dan seperti
kebanyakan selebriti, bintang film dan penyanyi karbitan, yang lima
bulan lalu adalah nobody, dan yang sekarang bisa menentukan angka 40
juta untuk tampil membawakan empat lagu di sebuah acara, maka saya
yakin pemuda imut ini juga mampu melakukan seperti para kelompok
karbitan itu.
Manusia vs binatang
Setelah mengobrol ke sana-kemari, sampailah pada momen di mana pemuda
imut ini bertanya kepada saya, untuk membantunya memberi masukan
pendidikan S-2 yang hendak dijalankannya. Maka, berceritalah si pemuda
tampan nan imut itu soal cita-citanya, kesenangannya bermain angka dan
menganalisis data. Percakapannya itu kemudian diakhiri sebuah ucapan
penutup yang super cliché meski terasa seperti bom yang dimuntahkan di
sebuah medan laga. "Tapi, Papa itu maunya saya ke sini. Papa bilang
buat apa kamu ngitung-ngitung, analisa-analisa segala macam."
Kemudian ia melanjutkan keluhannya itu. "Padahal, kan, seharusnya
kalau milih jurusan adalah sesuatu yang saya inginkan, bukan yang Papa
inginkan. Tapi ya gitu, Om, Papa ngomongnya gitu. Saya sendiri sudah
tak tahu lagi bagaimana membuat Papa bisa lebih terbuka. Bisa
menempatkan dirinya kalau dia menjadi saya."
Pemuda imut itu melanjutkan ceritanya. Sebelum ia duduk di bangku
fakultas ekonomi ini, ia sudah mencoba untuk bisa menjadi mahasiswa
kedokteran seperti yang diinginkan ayahnya. Ia mendaftar di tiga
universitas dan gagal total menembus ujian masuk. Si papa naik pitam.
Dan makin naik pitam lagi ketika ia mendengar bahwa teman-teman
anaknya berhasil masuk ke fakultas kedokteran. Maka, si imutlah yang
kemudian mendapat ganjaran atas kekecewaan besar manusia bernama papa
itu, dengan kalimat "memang dasar goblok" nya yang meluncur ringan
dari mulutnya dan berubah menjadi sebuah belati yang menghunjam di
dada anaknya.
Mendengar cerita itu, saya sudah tak heran lagi. Saya pernah melewati
masa digoblokkan itu. Dan sore itu saya menangis di hadapannya. Ia
memancing air mata saya keluar, yang keluar karena kejengkelan melihat
begitu tak berdayanya saya dan pria imut ini sebagai anak. Air mata
yang bertanya, mengapa ada bapak macam itu? Bapak yang begitu susahnya
untuk mencoba menempatkan diri sebagai anak. Saya tak tahu apakah
masalah yang dihadapi pria imut ini sebuah masalah sepele, yang jelas
saya menitikkan air mata.
Beberapa bulan lalu saya membaca seorang ayah meniduri putri
kandungnya dan menjualnya ke rumah bordil di Surabaya, dan di tempat
ia dijual, ia masih menyempatkan diri meniduri anaknya sekali lagi.
Untuk kasus yang satu ini, saya tak bisa menangis lagi. Bingung. Tak
tahu lagi bedanya manusia dengan binatang.
Hidup Papa!
Saya tak pernah tahu, siapa yang memberi job description bahwa kalau
laki-laki berpredikat papa, bisa begitu berkuasanya, begitu otoriter,
tak bisa rileks menjalani peran sebagai ayah. Bahwa kepala keluarga
adalah segalanya. Saya sampai bertanya kepada diri saya sendiri, apa
yang ada di benak para papa, mengenai anak, kalau sampai anak itu
diperlakukan seperti boneka, dan tong sampah pada saat bersamaan?
Coba dengar cerita kisah sejati teman saya di bawah ini. Di masa
kecilnya, teman saya sering kali mendapat ganjaran dengan menggunakan
ikat pinggang ayahnya. "Gue, Sam, kalau bokap marah ama gue waktu
kecil, dia keluarin semua jenis ikat pinggangnya itu, kemudian gue
disuruh milih. Jenis ikat pinggang yang gue pilih, itu yang bakal
dipakai untuk ngegebukin gue."
Cerita itu membuat saya berpikir, apakah para papa semacam itu benar
mengerti tentang mencintai anak? Bisa jadi ada sejuta alasan mulia di
balik penggebukan itu. Dari anak itu harus belajar bertanggung jawab,
sampai alasan mencegah anak jangan sampai kurang ajar. Jadi, sebuah
penggebukan oleh seorang ayah dengan alasan positif tampaknya tak bisa
disebut kurang ajar.
Jadi, ayah tak pernah kurang ajar. Ayah berselingkuh, bukan kurang
ajar. Ayah memperlakukan anak semaunya saja juga bukan kurang ajar.
Ayah korupsi apalagi. La wong hasil korupsinya dipakai untuk
kesejahteraan keluarga. Bagaimana mengatakan papa kurang ajar, bukan?
Saya terinspirasi dari cerita seorang ibu yang hadir pada sore itu,
yang mengenal ayah saya. Ayah saya itu seorang perancang, yang
merancang sebuah jas dengan ukuran badannya sendiri, tetapi acapkali
ia kenakan kepada orang lain, yang ukuran badannya saja sudah berbeda
jauh. Ia akan kecewa berat ketika rancangannya ditolak mentah-mentah.
Ia sampai bisa lupa kalau rancangan di tubuh anaknya itu membuat
gerah, kesesakan, atau ukuran yang kebesaran, yang tidak kelihatan
apik dilihat di badan anaknya.
Maka mungkin, kalau papa cuma jadi dokter, cuma jadi tentara, itu
karena pengetahuan dan pengalaman untuk menjadi seniman tidak ada,
pengalaman untuk menjadi penari balet dan akuntan tidak ada. Jadi,
nasihatnya terbatas hanya dari pengalaman hidupnya. Maka, ia membuat
rancangan sesuai dengan hal-hal yang hanya ia ketahui. Dan pengalaman
merancang yang membuatnya berhasil disimpulkan akan membuat anaknya
berhasil seperti dirinya. Kalau seandainya hanya dokter atau hanya
tentara yang menjamin masa depan, mengapa sekarang ada akuntan publik
atau arsitek yang koaya roaya?
Mungkin mereka yang menjadi akuntan publik, pengacara, dan arsitek
juga dicekoki papanya karena papanya cuma tahu itu saja. Kemudian saya
berpikir, kalau di hadapan saya sekarang ada berbagai manusia yang
sukses dalam bidangnya yang berbeda-beda itu, bisa jadi semua karena
si papa hanya memiliki keahlian di satu bidang saja.
Waduh, kalau begitu tulisan ini keliru menceritakan betapa
menyebalkannya seorang papa itu. Daripada saya harus mengulang lagi
tulisan minggu ini dan mencari ide baru, sekarang mungkin waktu yang
tepat saya berkata dengan lantang. "Hidup Papa!" Ternyata, panjenengan
memang huebat. Tenane huebat.
Samuel Mulia
Penulis mode dan gaya hidup
Kilas Parodi: Buat yang Terluka
1.
Buat mereka yang masih dalam perjuangan "melawan" keadaan bernama papa
yang keras kepala, yang profesinya menjadi perancang, yang mudah naik
pitam, yang memaksakan kehendak, berdoa saja. Semoga kiranya Tuhan
yang Maha Adil lagi penyayang akan memberi hati yang keras itu menjadi
empuk seperti rendang.
2.
Pada waktu bersamaan, coba berpikir untuk berdikari (berdiri di kaki
sendiri) dan berjuang untuk apa yang Anda percayai benar dan baik
untuk Anda, tanpa emosi. Tetapi ingat, apa pun yang Anda berani
putuskan, risikonya ada di tangan Anda sepenuhnya. Jangan cengeng!
Inilah saatnya Anda menjadi manusia yang berani bertanggung jawab.
3.
Bedakan antara kurang ajar dan tidak hormat kepada orangtua. Semoga
saya keliru, tetapi berdasarkan pengalaman saya, bahwa yang dimaksud
dengan orangtua itu harus dihormati, kok berakhir dengan pengertian
bahwa anak harus yang yes man saja, dan yang menyenangkan orangtua
semata. Pokoknya anak itu tak ada nilainya. Semakin nurut, semakin
baik. Itu pemikiran saya.
4.
Kalau ada yang berkata Anda masih muda kurang berpengalaman, kok
berani tidak mengikuti nasihat bokap. Maka, pertanyaan itu sebaiknya
dikembalikan lagi, tanyakan kepada papa Anda, waktu masih muda dahulu,
pengalaman apa yang mereka miliki sehingga mereka juga berani
memutuskan untuk memilih menjadi dokter, pengusaha, dan berani
menikah?
5.
Saya mau sharing saja, berhentilah jadi papa yang neko-neko, gengsi,
dan sebagainya. Kalau masa lalu Anda begitu kelamnya, begitu terluka,
banyak cita-cita tak tersampaikan, dan terlampiaskan. Kalau masa muda
Anda miskin dan mengecewakan, kalau Anda mungkin pernah diabused, mbok
kalau bisa, Anda juga berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan tabiat
Anda itu sebelum Anda menjadikan anak sebagai tempat paling empuk dan
bebas risiko untuk memuntahkan segala kekesalan dan kekecewaan dari
masa lalu itu.
(Samuel Mulia)
Minggu, 20 Juli 2008 | 01:39 WIB
Samuel Mulia
Dua minggu lalu, di suatu sore saya kedatangan tamu, teman lama semasa
di sekolah menengah pertama. Ia mengajak beberapa temannya. Seorang
wanita yang adalah kakak kelas kami dengan putrinya yang berusia 15
tahun, seorang ibu, dan seorang pria muda tampan berusia 21 tahun.
Pria muda yang kalau saya tawarkan ke dunia sinetron dan model, pasti
langsung melejit. Putih, imut dengan badan yang indah. Dan seperti
kebanyakan selebriti, bintang film dan penyanyi karbitan, yang lima
bulan lalu adalah nobody, dan yang sekarang bisa menentukan angka 40
juta untuk tampil membawakan empat lagu di sebuah acara, maka saya
yakin pemuda imut ini juga mampu melakukan seperti para kelompok
karbitan itu.
Manusia vs binatang
Setelah mengobrol ke sana-kemari, sampailah pada momen di mana pemuda
imut ini bertanya kepada saya, untuk membantunya memberi masukan
pendidikan S-2 yang hendak dijalankannya. Maka, berceritalah si pemuda
tampan nan imut itu soal cita-citanya, kesenangannya bermain angka dan
menganalisis data. Percakapannya itu kemudian diakhiri sebuah ucapan
penutup yang super cliché meski terasa seperti bom yang dimuntahkan di
sebuah medan laga. "Tapi, Papa itu maunya saya ke sini. Papa bilang
buat apa kamu ngitung-ngitung, analisa-analisa segala macam."
Kemudian ia melanjutkan keluhannya itu. "Padahal, kan, seharusnya
kalau milih jurusan adalah sesuatu yang saya inginkan, bukan yang Papa
inginkan. Tapi ya gitu, Om, Papa ngomongnya gitu. Saya sendiri sudah
tak tahu lagi bagaimana membuat Papa bisa lebih terbuka. Bisa
menempatkan dirinya kalau dia menjadi saya."
Pemuda imut itu melanjutkan ceritanya. Sebelum ia duduk di bangku
fakultas ekonomi ini, ia sudah mencoba untuk bisa menjadi mahasiswa
kedokteran seperti yang diinginkan ayahnya. Ia mendaftar di tiga
universitas dan gagal total menembus ujian masuk. Si papa naik pitam.
Dan makin naik pitam lagi ketika ia mendengar bahwa teman-teman
anaknya berhasil masuk ke fakultas kedokteran. Maka, si imutlah yang
kemudian mendapat ganjaran atas kekecewaan besar manusia bernama papa
itu, dengan kalimat "memang dasar goblok" nya yang meluncur ringan
dari mulutnya dan berubah menjadi sebuah belati yang menghunjam di
dada anaknya.
Mendengar cerita itu, saya sudah tak heran lagi. Saya pernah melewati
masa digoblokkan itu. Dan sore itu saya menangis di hadapannya. Ia
memancing air mata saya keluar, yang keluar karena kejengkelan melihat
begitu tak berdayanya saya dan pria imut ini sebagai anak. Air mata
yang bertanya, mengapa ada bapak macam itu? Bapak yang begitu susahnya
untuk mencoba menempatkan diri sebagai anak. Saya tak tahu apakah
masalah yang dihadapi pria imut ini sebuah masalah sepele, yang jelas
saya menitikkan air mata.
Beberapa bulan lalu saya membaca seorang ayah meniduri putri
kandungnya dan menjualnya ke rumah bordil di Surabaya, dan di tempat
ia dijual, ia masih menyempatkan diri meniduri anaknya sekali lagi.
Untuk kasus yang satu ini, saya tak bisa menangis lagi. Bingung. Tak
tahu lagi bedanya manusia dengan binatang.
Hidup Papa!
Saya tak pernah tahu, siapa yang memberi job description bahwa kalau
laki-laki berpredikat papa, bisa begitu berkuasanya, begitu otoriter,
tak bisa rileks menjalani peran sebagai ayah. Bahwa kepala keluarga
adalah segalanya. Saya sampai bertanya kepada diri saya sendiri, apa
yang ada di benak para papa, mengenai anak, kalau sampai anak itu
diperlakukan seperti boneka, dan tong sampah pada saat bersamaan?
Coba dengar cerita kisah sejati teman saya di bawah ini. Di masa
kecilnya, teman saya sering kali mendapat ganjaran dengan menggunakan
ikat pinggang ayahnya. "Gue, Sam, kalau bokap marah ama gue waktu
kecil, dia keluarin semua jenis ikat pinggangnya itu, kemudian gue
disuruh milih. Jenis ikat pinggang yang gue pilih, itu yang bakal
dipakai untuk ngegebukin gue."
Cerita itu membuat saya berpikir, apakah para papa semacam itu benar
mengerti tentang mencintai anak? Bisa jadi ada sejuta alasan mulia di
balik penggebukan itu. Dari anak itu harus belajar bertanggung jawab,
sampai alasan mencegah anak jangan sampai kurang ajar. Jadi, sebuah
penggebukan oleh seorang ayah dengan alasan positif tampaknya tak bisa
disebut kurang ajar.
Jadi, ayah tak pernah kurang ajar. Ayah berselingkuh, bukan kurang
ajar. Ayah memperlakukan anak semaunya saja juga bukan kurang ajar.
Ayah korupsi apalagi. La wong hasil korupsinya dipakai untuk
kesejahteraan keluarga. Bagaimana mengatakan papa kurang ajar, bukan?
Saya terinspirasi dari cerita seorang ibu yang hadir pada sore itu,
yang mengenal ayah saya. Ayah saya itu seorang perancang, yang
merancang sebuah jas dengan ukuran badannya sendiri, tetapi acapkali
ia kenakan kepada orang lain, yang ukuran badannya saja sudah berbeda
jauh. Ia akan kecewa berat ketika rancangannya ditolak mentah-mentah.
Ia sampai bisa lupa kalau rancangan di tubuh anaknya itu membuat
gerah, kesesakan, atau ukuran yang kebesaran, yang tidak kelihatan
apik dilihat di badan anaknya.
Maka mungkin, kalau papa cuma jadi dokter, cuma jadi tentara, itu
karena pengetahuan dan pengalaman untuk menjadi seniman tidak ada,
pengalaman untuk menjadi penari balet dan akuntan tidak ada. Jadi,
nasihatnya terbatas hanya dari pengalaman hidupnya. Maka, ia membuat
rancangan sesuai dengan hal-hal yang hanya ia ketahui. Dan pengalaman
merancang yang membuatnya berhasil disimpulkan akan membuat anaknya
berhasil seperti dirinya. Kalau seandainya hanya dokter atau hanya
tentara yang menjamin masa depan, mengapa sekarang ada akuntan publik
atau arsitek yang koaya roaya?
Mungkin mereka yang menjadi akuntan publik, pengacara, dan arsitek
juga dicekoki papanya karena papanya cuma tahu itu saja. Kemudian saya
berpikir, kalau di hadapan saya sekarang ada berbagai manusia yang
sukses dalam bidangnya yang berbeda-beda itu, bisa jadi semua karena
si papa hanya memiliki keahlian di satu bidang saja.
Waduh, kalau begitu tulisan ini keliru menceritakan betapa
menyebalkannya seorang papa itu. Daripada saya harus mengulang lagi
tulisan minggu ini dan mencari ide baru, sekarang mungkin waktu yang
tepat saya berkata dengan lantang. "Hidup Papa!" Ternyata, panjenengan
memang huebat. Tenane huebat.
Samuel Mulia
Penulis mode dan gaya hidup
Kilas Parodi: Buat yang Terluka
1.
Buat mereka yang masih dalam perjuangan "melawan" keadaan bernama papa
yang keras kepala, yang profesinya menjadi perancang, yang mudah naik
pitam, yang memaksakan kehendak, berdoa saja. Semoga kiranya Tuhan
yang Maha Adil lagi penyayang akan memberi hati yang keras itu menjadi
empuk seperti rendang.
2.
Pada waktu bersamaan, coba berpikir untuk berdikari (berdiri di kaki
sendiri) dan berjuang untuk apa yang Anda percayai benar dan baik
untuk Anda, tanpa emosi. Tetapi ingat, apa pun yang Anda berani
putuskan, risikonya ada di tangan Anda sepenuhnya. Jangan cengeng!
Inilah saatnya Anda menjadi manusia yang berani bertanggung jawab.
3.
Bedakan antara kurang ajar dan tidak hormat kepada orangtua. Semoga
saya keliru, tetapi berdasarkan pengalaman saya, bahwa yang dimaksud
dengan orangtua itu harus dihormati, kok berakhir dengan pengertian
bahwa anak harus yang yes man saja, dan yang menyenangkan orangtua
semata. Pokoknya anak itu tak ada nilainya. Semakin nurut, semakin
baik. Itu pemikiran saya.
4.
Kalau ada yang berkata Anda masih muda kurang berpengalaman, kok
berani tidak mengikuti nasihat bokap. Maka, pertanyaan itu sebaiknya
dikembalikan lagi, tanyakan kepada papa Anda, waktu masih muda dahulu,
pengalaman apa yang mereka miliki sehingga mereka juga berani
memutuskan untuk memilih menjadi dokter, pengusaha, dan berani
menikah?
5.
Saya mau sharing saja, berhentilah jadi papa yang neko-neko, gengsi,
dan sebagainya. Kalau masa lalu Anda begitu kelamnya, begitu terluka,
banyak cita-cita tak tersampaikan, dan terlampiaskan. Kalau masa muda
Anda miskin dan mengecewakan, kalau Anda mungkin pernah diabused, mbok
kalau bisa, Anda juga berdoa kepada Tuhan untuk menyembuhkan tabiat
Anda itu sebelum Anda menjadikan anak sebagai tempat paling empuk dan
bebas risiko untuk memuntahkan segala kekesalan dan kekecewaan dari
masa lalu itu.
(Samuel Mulia)
Link | Leave a comment {1} | Add to Memories | Tell a Friend
[joke] Debat Tanpa Kata-kata
Apr. 22nd, 2008 | 11:24 am
----- Original Message -----
Debat Tanpa Kata-kata
Kira-kira 2 - 3 abad yang lalu, Paus memutuskan bahwa seluruh Yahudi harus
meninggalkan Roma, yang tentu saja kemudian menimbulkan keresahan dan
penolakan dari bangsa Yahudi tersebut.
Kemudian Paus menawarkan untuk mengadakan debat religius dengan seorang
anggota komunitas Yahudi, yang mana jika orang Yahudi pilihan tersebut
menang, maka bangsa Yahudi boleh tetap tinggal di Roma. Sebaliknya, jika
Paus yang menang, maka bangsa Yahudi harus segera meninggalkan Roma.
Bangsa Yahudi sadar, bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Lalu mereka
kemudian memilih seorang pemuda yang bernama Moishe sebagai calon dari pihak
Yahudi. Moishe kemudian mengajukan syarat, di mana, agar lebih menarik, debat
dilakukan tanpa berkata-kata.
Paus kemudian menyetujui persyaratan tersebut, lalu forum debat pun dimulai.
Pada saat debat dimulai, Moishe dan Paus duduk saling berhadapan.
Setelah kira-kira berjalan satu menit, Paus kemudian mengangkat tangannya
dan menunjukkan tiga jari.
Moishe memandang sebentar kepada Paus lalu kemudian menunjukkan satu
jarinya.
Paus kemudian membentuk lingkaran dengan jarinya di atas kepalanya.
Moishe membalas dengan menunjuk ke tanah.
Paus lalu mengeluarkan sebuah wafer dan segelas anggur.
Di mana kemudian Moishe membalas dengan mengeluarkan sebutir apel.
Tiba-tiba Paus berdiri dan berkata, "Saya menyerah kalah. Orang ini terlalu
tangguh. Bangsa Yahudi boleh tinggal."
Satu jam kemudian, para Kardinal sibuk menanyai Paus atas apa yang telah
terjadi.
Paus menjawab, "Pertama, aku mengangkat tiga jari ku sebagai lambang
trinitas. Dia merespon dengan mengangkat satu jarinya untuk mengingatkanku
bahwa tetap hanya ada satu Tuhan untuk kedua agama kami...
Kemudian aku membentuk lingkaran disekelilingku yang menunjukkan bahwa Tuhan
ada di sekitar kita. Dia membalasnya dengan menunjuk ke tanah dan
menunjukkan bahwa Tuhan juga sekarang ada bersama kita.
Aku mengeluarkan sebuah wafer dan segelas anggur menunjukkan bahwa Tuhan
akan menebus dosa-dosa kita. Dia kemudian mengeluarkan sebutir apel untuk
mengingatkanku akan dosa awal umat manusia. Dia memiliki jawaban atas
segalanya. Apa yang dapat aku lakukan?"
Sementara itu, di pihak bangsa Yahudi, Moishe sibuk ditanyai..
"Apa yang terjadi?" tanya mereka.
"Well," kata Moishe. "Pertama dia mengatakan padaku bahwa bangsa Yahudi
memiliki 3 hari untuk pergi dari sini. Aku katakan padanya bahwa tidak satu
orang pun dari kita yang akan pergi.
Kemudian,kedua.. dia mengatakan padaku bahwa seluruh kota akan dibersihkan
dari bangsa Yahudi. Kemudian aku tegaskan kepada mereka bahwa kita akan
tetap tinggal disini."
"Ya, ya,.. lalu ?" tanya mereka lagi
"Maksud Sri Paus yang ketiga aku tidak tahu," kata Moishe, "aku pikir dia
mengeluarkan wafer dan anggur untuk menunjukan bekal makannya dan aku pun
mengeluarkan bekalku..."
Debat Tanpa Kata-kata
Kira-kira 2 - 3 abad yang lalu, Paus memutuskan bahwa seluruh Yahudi harus
meninggalkan Roma, yang tentu saja kemudian menimbulkan keresahan dan
penolakan dari bangsa Yahudi tersebut.
Kemudian Paus menawarkan untuk mengadakan debat religius dengan seorang
anggota komunitas Yahudi, yang mana jika orang Yahudi pilihan tersebut
menang, maka bangsa Yahudi boleh tetap tinggal di Roma. Sebaliknya, jika
Paus yang menang, maka bangsa Yahudi harus segera meninggalkan Roma.
Bangsa Yahudi sadar, bahwa mereka tidak punya pilihan lain. Lalu mereka
kemudian memilih seorang pemuda yang bernama Moishe sebagai calon dari pihak
Yahudi. Moishe kemudian mengajukan syarat, di mana, agar lebih menarik, debat
dilakukan tanpa berkata-kata.
Paus kemudian menyetujui persyaratan tersebut, lalu forum debat pun dimulai.
Pada saat debat dimulai, Moishe dan Paus duduk saling berhadapan.
Setelah kira-kira berjalan satu menit, Paus kemudian mengangkat tangannya
dan menunjukkan tiga jari.
Moishe memandang sebentar kepada Paus lalu kemudian menunjukkan satu
jarinya.
Paus kemudian membentuk lingkaran dengan jarinya di atas kepalanya.
Moishe membalas dengan menunjuk ke tanah.
Paus lalu mengeluarkan sebuah wafer dan segelas anggur.
Di mana kemudian Moishe membalas dengan mengeluarkan sebutir apel.
Tiba-tiba Paus berdiri dan berkata, "Saya menyerah kalah. Orang ini terlalu
tangguh. Bangsa Yahudi boleh tinggal."
Satu jam kemudian, para Kardinal sibuk menanyai Paus atas apa yang telah
terjadi.
Paus menjawab, "Pertama, aku mengangkat tiga jari ku sebagai lambang
trinitas. Dia merespon dengan mengangkat satu jarinya untuk mengingatkanku
bahwa tetap hanya ada satu Tuhan untuk kedua agama kami...
Kemudian aku membentuk lingkaran disekelilingku yang menunjukkan bahwa Tuhan
ada di sekitar kita. Dia membalasnya dengan menunjuk ke tanah dan
menunjukkan bahwa Tuhan juga sekarang ada bersama kita.
Aku mengeluarkan sebuah wafer dan segelas anggur menunjukkan bahwa Tuhan
akan menebus dosa-dosa kita. Dia kemudian mengeluarkan sebutir apel untuk
mengingatkanku akan dosa awal umat manusia. Dia memiliki jawaban atas
segalanya. Apa yang dapat aku lakukan?"
Sementara itu, di pihak bangsa Yahudi, Moishe sibuk ditanyai..
"Apa yang terjadi?" tanya mereka.
"Well," kata Moishe. "Pertama dia mengatakan padaku bahwa bangsa Yahudi
memiliki 3 hari untuk pergi dari sini. Aku katakan padanya bahwa tidak satu
orang pun dari kita yang akan pergi.
Kemudian,kedua.. dia mengatakan padaku bahwa seluruh kota akan dibersihkan
dari bangsa Yahudi. Kemudian aku tegaskan kepada mereka bahwa kita akan
tetap tinggal disini."
"Ya, ya,.. lalu ?" tanya mereka lagi
"Maksud Sri Paus yang ketiga aku tidak tahu," kata Moishe, "aku pikir dia
mengeluarkan wafer dan anggur untuk menunjukan bekal makannya dan aku pun
mengeluarkan bekalku..."
Link | Leave a comment | Add to Memories | Tell a Friend
Fwd: [joke] Bill Gates' Logic... Must Read
Feb. 22nd, 2008 | 06:35 pm
Of course it's not his logic (and definitely not recent)... but it's
kind of funny (and true).
---------- Forwarded message ----------
Love him or hate him, he sure hits the nail on the head with this!
Bill Gates recently gave a speech at a High School about 11 things
they did not and will not learn in school. He talks about how
feel-good, politically correct teachings created a generation of kids
with no concept of reality and how this concept set them up for
failure in the real world.
Rule 1 : Life is not fair - get used to it!
Rule 2 : The world won't care about your self-esteem. The world will
expect you to accomplish something BEFORE you feel good about
yourself.
Rule 3 : You will NOT make $60,000 a year right out of high school.
You won't be a vice-president with a car phone until you earn both.
Rule 4 : If you think your teacher is tough, wait till you get a boss.
Rule 5 : Flipping burgers is not beneath your dignity. Your
Grandparents had a different word for burger flipping: they called it
opportunity.
Rule 6: If you mess up, it's not your parents' fault, so don't whine
about your mistakes, learn from them.
Rule 7: Before you were born, your parents weren't as boring as they
are now. They got that way from paying your bills, cleaning your
clothes and listening to you talk about how cool you thought you were.
So before you save the rain forest from the parasites of your parent's
generation, try delousing the closet in your own room.
Rule 8: Your school may have done away with winners and losers, but
life HAS NOT. In some schools, they have abolished failing grades and
they'll give you as MANY TIMES as you want to get the right answer.
This doesn't bear the slightest resemblance to ANYTHING in real life.
Rule 9: Life is not divided into semesters. You don't get summers off
and very few employers are interested in helping you FIND YOURSELF. Do
that on your own time.
Rule 10: Television is NOT real life. In real life people actually
have to leave the coffee shop and go to jobs.
Rule 11 : Be nice to nerds. Chances are you'll end up working for one.
kind of funny (and true).
---------- Forwarded message ----------
Love him or hate him, he sure hits the nail on the head with this!
Bill Gates recently gave a speech at a High School about 11 things
they did not and will not learn in school. He talks about how
feel-good, politically correct teachings created a generation of kids
with no concept of reality and how this concept set them up for
failure in the real world.
Rule 1 : Life is not fair - get used to it!
Rule 2 : The world won't care about your self-esteem. The world will
expect you to accomplish something BEFORE you feel good about
yourself.
Rule 3 : You will NOT make $60,000 a year right out of high school.
You won't be a vice-president with a car phone until you earn both.
Rule 4 : If you think your teacher is tough, wait till you get a boss.
Rule 5 : Flipping burgers is not beneath your dignity. Your
Grandparents had a different word for burger flipping: they called it
opportunity.
Rule 6: If you mess up, it's not your parents' fault, so don't whine
about your mistakes, learn from them.
Rule 7: Before you were born, your parents weren't as boring as they
are now. They got that way from paying your bills, cleaning your
clothes and listening to you talk about how cool you thought you were.
So before you save the rain forest from the parasites of your parent's
generation, try delousing the closet in your own room.
Rule 8: Your school may have done away with winners and losers, but
life HAS NOT. In some schools, they have abolished failing grades and
they'll give you as MANY TIMES as you want to get the right answer.
This doesn't bear the slightest resemblance to ANYTHING in real life.
Rule 9: Life is not divided into semesters. You don't get summers off
and very few employers are interested in helping you FIND YOURSELF. Do
that on your own time.
Rule 10: Television is NOT real life. In real life people actually
have to leave the coffee shop and go to jobs.
Rule 11 : Be nice to nerds. Chances are you'll end up working for one.
Link | Leave a comment {1} | Add to Memories | Tell a Friend
Fwd: Judul Box Office
Jan. 31st, 2008 | 02:59 pm
film box office di translate ke bhs jawa...
Enemy at the Gates -- Musuhe Wis Tekan Gapuro
Die Another Day -- Modare Ojo Saiki
Die Hard -- Matine Angel
Die Hard II -- Matine Angel Tenan
Die Hard III With A Vengeance -- Kowe Kok Ra Mati-Mati To?
Die Hard IV (Die) - Jan Tenanan, Arep Mati Kok Angel Tenan
Enemy at the Gates -- Musuhe Wis Tekan Gapuro
Die Another Day -- Modare Ojo Saiki
Die Hard -- Matine Angel
Die Hard II -- Matine Angel Tenan
Die Hard III With A Vengeance -- Kowe Kok Ra Mati-Mati To?
Die Hard IV (Die) - Jan Tenanan, Arep Mati Kok Angel Tenan
Link | Leave a comment {1} | Add to Memories | Tell a Friend
Fwd: When Passion Doesn't Pay Your Bill !
Jan. 22nd, 2008 | 01:54 pm
Artikel, ringkasan dari satu sesi radio Hard Rock FM.
---------- Forwarded message ----------
Date: 2008/1/22
Subject: [EL-ITB] NaQia : Article : When Passion Doesnt Pay Your Bill !
Thursday, 03 January 2008
Pertengahan November 2007, saya bertemu dengan Sekar
Pandan Wangi - Program Director Hard Rock FM.
Hasilnya, kami punya daftar topik untuk 2008.
Setelah pilih-pilih, kami sepakat, tahun baru harus
dimulai dengan ngegas!
Jadilah bintang tamu pilihan kami untuk edisi perdana
Financial Clinic adalah : my personal career coach
Rene Suhardono.
Topiknya pun nyebelin :
*When Passion Doesn't Pay Your Bill!
*
Jadi ceritanya begini. Sering banget saya menerima
email dari teman-teman yang bunyinya kurang lebih
sebagai berikut :
"Wina, sekali-sekali bikin dong topik untuk gaji
kecil. Contohnya melulu untuk gaji yang besar-besar."
Lho.... jadi judes banget deh kalau ada yang kirim
email begitu.
Reaksi pertama saya adalah : I'm a financial planner.
I'm not a career coach. I don't care how much money
you make, I care about how much is left after all your
spending and how I can work with that kind of money
towards investments.
So...
Are you happy with your job?
Are you happy with your salary?
Are you happy with life itself?
Orang dengan attitude : gaji gue kecil... akan terus
jadi begitu...
7 tahun kemudian, gaji naik 7 x lipat pun, orang ini
akan terus bilang : gaji gue kecil... kan sekarang anak
gue 3.
7 tahun berikutnya, gaji naik lagi 5 x lipat, orang
ini akan bilang : gaji gue kecil... dengan jabatan
direktur, mana cukup gaji sebegitu, anak gue kan udah
kuliah, biaya kuliah mahal, bensin naik, listrik
naik...
I cannot help you if you don't want to help yourself.
Seorang financial planner harus ketemu angka. Angka
ini yang harus bicara, apa iya gajinya kecil? Apa iya
gajinya gak cukup? Atau jangan-jangan ada pengeluaran
gak penting yang membuat gaji ini berasa gak cukup?
Atau jangan-jangan ada kebiasaan buruk yang membuat
gaji ini habis terus?
Biasanya saya akan lempar body ke Rene.
Tentu saja Rene akan ngakak habis-habisan dan dengan
rese bilang begini : I'm a career coach. I'm not a
financial planner.
Tuh kan...
Your money, your life, your responsibility!
TIPS dari WINA supaya gak merasa kekurangan melulu :
RINCI PENGELUARAN
Pekerjaan paling menyebalkan dalam financial planning
adalah menyusun budget dan lebih parah lagi
membandingkannya dengan pengeluaran aktual. Tapi kalau
merasa kekurangan ini tetap harus dilakukan.
BUKTIKAN!
Bukan lagu Dewi Sandra, tapi ayo buktikan kalau memang
gaji kita kurang. Hasil memerinci pengeluaran tadi
harus dapat menunjukkan di mana kita kekurangan.
Beberapa contoh lucu :
Si gaji 4 juta, merasa gaji kecil dan minus melulu.
Katanya karena harus menopang hidup keluarga. Hasil
rincian anggaran menunjukkan bahwa 2 juta habis untuk
pengeluaran ibu. Oklah 50% adalah angka yang besar.
Tetapi dari 2 juta sisanya, 500 ribu untuk fitness,
500ribu untuk vitamin, 500ribu untuk internet dan TV
kabel, 500ribu lagi untuk pengeluaran.
Si gaji 10 juta merasa kekurangan. Padahal untuk
menyiapkan biasa masuk TK anaknya cuma 1 bulan lagi...
ternyata cicilan LCD TV itu Rp 1 juta per bulan, tapi
tabungan untuk TK anaknya cuma Rp 300ribu / bulan.
NAIKKAN PENGHASILAN, TURUNKAN PENGELUARAN
Iya iya tau, ini emang gak gampang prakteknya.
Turunkan pengeluaran - artinya kita periksa tuh daftar
pengeluaran dan cek mana yang gak masuk akal. Hp
800ribu per bulan apa iya? Premi asuransi 2 juta per
bulan, tapi Uang Pertanggungannya 50 juta, apa iya?
Makan di luar setiap hari apa iya? Minimum payment
kartu kredit kok sampai Rp 3 juta per bulan ya?
Sudah semuanya dihemat - gak seru banget ya disuruh
hemat - sekarang gimana?
Biasanya dengan ngeyel akan ada yang bilang begini :
Apalagi yang mau dihemat?
Sekarang artinya penghasilan yang harus dinaikkan.
Banyak caranya kok.
Istri boleh kerja (heheheh... viva feminista. Lo pikir
Tante Wina boleh kerja lagi kenapa? Gaji Om Don naik
terus juga, kalau keinginannya banyak kan gak cukup
untuk investasi?)
Cari kerja sampingan.
Buka warung.
Menyiapkan aset yang dapat menghasilkan : Bisnis,
Properti, Surat Berharga
Jadi penulis.
Jadi dosen honorer.
Jadi editor buku.
Jualan asuransi (hehehehehehehehehe h....)
Jualan panci presto cooker.
Jualan kaos dengan sablon lucu.
Ambil barang di Tanah Abang dan bawa ke kantor untuk
dijual.
Ambil barang dari teman dan bawa ke kantor untuk
dijual.
Tahu gak, dikasih daftar hal bisa dilakukan untuk
menambah penghasilan, jawaban negatifnya bisa seperti
ini :
Duh kerja sampingan gimana, pulang kantor udah sore
banget.
Yah gak level... biasa ke mall kok disuruh jaga
warung.
Aset? Perlu modal dong. Lo bisa minjemin gak? Gue kan
gak punya duit.
Jadi penulis? Gak bakat.
Jadi dosen? Gak punya S2.
Jualan???? Oh My GOD, never!
Ke Tanah Abang? Apa itu Tanah Abang?
Tuh kan... alasan sih ada terus.. kapan majunya?
Kira-kira Rene akan punya komentar apa ya...
Si gaji 1 juta merasa kekurangan.. .
Lho kan lagi magang? Tempat lain magang itu gak
dibayar lho!
Memangnya kamu punya kemampuan apa supaya gajinya gak
1 juta?
Memangnya kalau dikasih gaji Rp15 juta lo bisa kasih
kontribusi apa sama perusahaan?
Hasil cela-celaan dan diskusi dengan Rene menunjukkan
kesimpulan sbb :
Always seek for your passion - kalau sampai belum
ketemu jangan kapok (Wina menemukan passionnya setelah
5 tahun, Dondi menemukan passionnya setelah 7 tahun...
jadi memang gak bisa ketemu dalam sekejap)
Develop your career - not just a job
Gaji gak datang dari langit, perhatikan proses
bagaimana terjadinya gaji itu sendiri dalam
perusahaan. Kalau ingin gaji kita naik, berarti
perusahaan juga harus punya income lebih besar.
Makanya fokus kerja kita harus juga memberikan
kontribusi signifikan pada peningkatan penghasilan
perusahaan.
Contoh yang sempat seru dibahas : bilang sama boss
kalau kamu punya ide-ide cemerlang untuk meningkatkan
penghasilan perusahaan. Jangan lupa tanyakan reward
apa yang kamu dapatkan kalau ide itu bisa berhasil
diimplementasikan. Kalau sampai ternyata rewardnya gak
berasa - paling tidak kamu sudah berhasil
mengembangkan karir kamu, jadi bisa 'shop around' ke
perusahaan lain dengan menunjukan achievement tadi :
berhasil meningkatkan penghasilan perusahaan. This is
more valuable than asking for a raise.
Belakangan ini Rene malah sering bertemu executive
yang bersedia pindah kerja dengan gaji pokok lebih
kecil, tetapi dengan gaji variabel yang berpotensi
memberikan hasil lebih besar.
Terakhir, tukar menukar jargon antara Wina dan Rene :
Tujuan lo apa?
Dana Darurat lo udah berapa seh?
You eat what you kill.
Love your career not your job.
Masih ada yang berani bilang gajinya kekecilan?
Biasanya ada aja yang masih bunyi : bagaimana dengan
orang yang bekerja sebagai tukang becak?
Well, are you a tukang becak?
Do you make Rp 10.000 a day and spend it all in food?
If you do, you need a break. You don't need financial
planning or career coaching. You need to be empowered!
Makanya ada zakat, sedekah, charity, perpuluhan atau
apapun namanya yang membuat semua penghasilan kita itu
ada bagiannya yang menjadi hak orang yang lebih gak
mampu dibandingkan kita.
Or the wonder of microfinance. Check this brilliant
program : *www.kiva.org*. CNBC pernah meliput juga ke
lokasi pinjaman KIVA. Sakit jiwa, awalnya saya tidak
percaya. Tapi ternyata ada dan terjadi di dunia nyata.
Supir taksi sepeda di Afrika menerima pinjaman dari
KIVA untuk memulai restorannya (baca : warung jelek
dari terpal di pinggir jalan). Sehingga si supir taksi
sepeda ini bisa memperbaiki hidupnya, pindah ke rumah
yang pintunya besi (sebelumnya gak punya pintu) dan
menyekolahkan anaknya.
Microfinance is lending to the poor. It is about
creating big breaks. It is the business of creating
champion out of noone. (quotes taken from
*www.kiva.org*) . By the way, this is Dondi's passion. He
is a credit specialist, working as head of risk
management for a multi finance company. He is working
very hard to make it into the gate of microfinance. He
is improving his knowledge and skills. So when he
meets the opportunity, he will be embracing it.
Now don't tell me that you are 'orang gak punya'
dengan gaji sejuta, HP Nokia seri N dan
nongkrong-nongkrong di mall... I've seen too much of it.
You gotta come up with better excuses!
You ARE Responsible For Your Own Finances!
Ligwina Hananto
---------- Forwarded message ----------
Date: 2008/1/22
Subject: [EL-ITB] NaQia : Article : When Passion Doesnt Pay Your Bill !
Thursday, 03 January 2008
Pertengahan November 2007, saya bertemu dengan Sekar
Pandan Wangi - Program Director Hard Rock FM.
Hasilnya, kami punya daftar topik untuk 2008.
Setelah pilih-pilih, kami sepakat, tahun baru harus
dimulai dengan ngegas!
Jadilah bintang tamu pilihan kami untuk edisi perdana
Financial Clinic adalah : my personal career coach
Rene Suhardono.
Topiknya pun nyebelin :
*When Passion Doesn't Pay Your Bill!
*
Jadi ceritanya begini. Sering banget saya menerima
email dari teman-teman yang bunyinya kurang lebih
sebagai berikut :
"Wina, sekali-sekali bikin dong topik untuk gaji
kecil. Contohnya melulu untuk gaji yang besar-besar."
Lho.... jadi judes banget deh kalau ada yang kirim
email begitu.
Reaksi pertama saya adalah : I'm a financial planner.
I'm not a career coach. I don't care how much money
you make, I care about how much is left after all your
spending and how I can work with that kind of money
towards investments.
So...
Are you happy with your job?
Are you happy with your salary?
Are you happy with life itself?
Orang dengan attitude : gaji gue kecil... akan terus
jadi begitu...
7 tahun kemudian, gaji naik 7 x lipat pun, orang ini
akan terus bilang : gaji gue kecil... kan sekarang anak
gue 3.
7 tahun berikutnya, gaji naik lagi 5 x lipat, orang
ini akan bilang : gaji gue kecil... dengan jabatan
direktur, mana cukup gaji sebegitu, anak gue kan udah
kuliah, biaya kuliah mahal, bensin naik, listrik
naik...
I cannot help you if you don't want to help yourself.
Seorang financial planner harus ketemu angka. Angka
ini yang harus bicara, apa iya gajinya kecil? Apa iya
gajinya gak cukup? Atau jangan-jangan ada pengeluaran
gak penting yang membuat gaji ini berasa gak cukup?
Atau jangan-jangan ada kebiasaan buruk yang membuat
gaji ini habis terus?
Biasanya saya akan lempar body ke Rene.
Tentu saja Rene akan ngakak habis-habisan dan dengan
rese bilang begini : I'm a career coach. I'm not a
financial planner.
Tuh kan...
Your money, your life, your responsibility!
TIPS dari WINA supaya gak merasa kekurangan melulu :
RINCI PENGELUARAN
Pekerjaan paling menyebalkan dalam financial planning
adalah menyusun budget dan lebih parah lagi
membandingkannya dengan pengeluaran aktual. Tapi kalau
merasa kekurangan ini tetap harus dilakukan.
BUKTIKAN!
Bukan lagu Dewi Sandra, tapi ayo buktikan kalau memang
gaji kita kurang. Hasil memerinci pengeluaran tadi
harus dapat menunjukkan di mana kita kekurangan.
Beberapa contoh lucu :
Si gaji 4 juta, merasa gaji kecil dan minus melulu.
Katanya karena harus menopang hidup keluarga. Hasil
rincian anggaran menunjukkan bahwa 2 juta habis untuk
pengeluaran ibu. Oklah 50% adalah angka yang besar.
Tetapi dari 2 juta sisanya, 500 ribu untuk fitness,
500ribu untuk vitamin, 500ribu untuk internet dan TV
kabel, 500ribu lagi untuk pengeluaran.
Si gaji 10 juta merasa kekurangan. Padahal untuk
menyiapkan biasa masuk TK anaknya cuma 1 bulan lagi...
ternyata cicilan LCD TV itu Rp 1 juta per bulan, tapi
tabungan untuk TK anaknya cuma Rp 300ribu / bulan.
NAIKKAN PENGHASILAN, TURUNKAN PENGELUARAN
Iya iya tau, ini emang gak gampang prakteknya.
Turunkan pengeluaran - artinya kita periksa tuh daftar
pengeluaran dan cek mana yang gak masuk akal. Hp
800ribu per bulan apa iya? Premi asuransi 2 juta per
bulan, tapi Uang Pertanggungannya 50 juta, apa iya?
Makan di luar setiap hari apa iya? Minimum payment
kartu kredit kok sampai Rp 3 juta per bulan ya?
Sudah semuanya dihemat - gak seru banget ya disuruh
hemat - sekarang gimana?
Biasanya dengan ngeyel akan ada yang bilang begini :
Apalagi yang mau dihemat?
Sekarang artinya penghasilan yang harus dinaikkan.
Banyak caranya kok.
Istri boleh kerja (heheheh... viva feminista. Lo pikir
Tante Wina boleh kerja lagi kenapa? Gaji Om Don naik
terus juga, kalau keinginannya banyak kan gak cukup
untuk investasi?)
Cari kerja sampingan.
Buka warung.
Menyiapkan aset yang dapat menghasilkan : Bisnis,
Properti, Surat Berharga
Jadi penulis.
Jadi dosen honorer.
Jadi editor buku.
Jualan asuransi (hehehehehehehehehe h....)
Jualan panci presto cooker.
Jualan kaos dengan sablon lucu.
Ambil barang di Tanah Abang dan bawa ke kantor untuk
dijual.
Ambil barang dari teman dan bawa ke kantor untuk
dijual.
Tahu gak, dikasih daftar hal bisa dilakukan untuk
menambah penghasilan, jawaban negatifnya bisa seperti
ini :
Duh kerja sampingan gimana, pulang kantor udah sore
banget.
Yah gak level... biasa ke mall kok disuruh jaga
warung.
Aset? Perlu modal dong. Lo bisa minjemin gak? Gue kan
gak punya duit.
Jadi penulis? Gak bakat.
Jadi dosen? Gak punya S2.
Jualan???? Oh My GOD, never!
Ke Tanah Abang? Apa itu Tanah Abang?
Tuh kan... alasan sih ada terus.. kapan majunya?
Kira-kira Rene akan punya komentar apa ya...
Si gaji 1 juta merasa kekurangan.. .
Lho kan lagi magang? Tempat lain magang itu gak
dibayar lho!
Memangnya kamu punya kemampuan apa supaya gajinya gak
1 juta?
Memangnya kalau dikasih gaji Rp15 juta lo bisa kasih
kontribusi apa sama perusahaan?
Hasil cela-celaan dan diskusi dengan Rene menunjukkan
kesimpulan sbb :
Always seek for your passion - kalau sampai belum
ketemu jangan kapok (Wina menemukan passionnya setelah
5 tahun, Dondi menemukan passionnya setelah 7 tahun...
jadi memang gak bisa ketemu dalam sekejap)
Develop your career - not just a job
Gaji gak datang dari langit, perhatikan proses
bagaimana terjadinya gaji itu sendiri dalam
perusahaan. Kalau ingin gaji kita naik, berarti
perusahaan juga harus punya income lebih besar.
Makanya fokus kerja kita harus juga memberikan
kontribusi signifikan pada peningkatan penghasilan
perusahaan.
Contoh yang sempat seru dibahas : bilang sama boss
kalau kamu punya ide-ide cemerlang untuk meningkatkan
penghasilan perusahaan. Jangan lupa tanyakan reward
apa yang kamu dapatkan kalau ide itu bisa berhasil
diimplementasikan. Kalau sampai ternyata rewardnya gak
berasa - paling tidak kamu sudah berhasil
mengembangkan karir kamu, jadi bisa 'shop around' ke
perusahaan lain dengan menunjukan achievement tadi :
berhasil meningkatkan penghasilan perusahaan. This is
more valuable than asking for a raise.
Belakangan ini Rene malah sering bertemu executive
yang bersedia pindah kerja dengan gaji pokok lebih
kecil, tetapi dengan gaji variabel yang berpotensi
memberikan hasil lebih besar.
Terakhir, tukar menukar jargon antara Wina dan Rene :
Tujuan lo apa?
Dana Darurat lo udah berapa seh?
You eat what you kill.
Love your career not your job.
Masih ada yang berani bilang gajinya kekecilan?
Biasanya ada aja yang masih bunyi : bagaimana dengan
orang yang bekerja sebagai tukang becak?
Well, are you a tukang becak?
Do you make Rp 10.000 a day and spend it all in food?
If you do, you need a break. You don't need financial
planning or career coaching. You need to be empowered!
Makanya ada zakat, sedekah, charity, perpuluhan atau
apapun namanya yang membuat semua penghasilan kita itu
ada bagiannya yang menjadi hak orang yang lebih gak
mampu dibandingkan kita.
Or the wonder of microfinance. Check this brilliant
program : *www.kiva.org*. CNBC pernah meliput juga ke
lokasi pinjaman KIVA. Sakit jiwa, awalnya saya tidak
percaya. Tapi ternyata ada dan terjadi di dunia nyata.
Supir taksi sepeda di Afrika menerima pinjaman dari
KIVA untuk memulai restorannya (baca : warung jelek
dari terpal di pinggir jalan). Sehingga si supir taksi
sepeda ini bisa memperbaiki hidupnya, pindah ke rumah
yang pintunya besi (sebelumnya gak punya pintu) dan
menyekolahkan anaknya.
Microfinance is lending to the poor. It is about
creating big breaks. It is the business of creating
champion out of noone. (quotes taken from
*www.kiva.org*) . By the way, this is Dondi's passion. He
is a credit specialist, working as head of risk
management for a multi finance company. He is working
very hard to make it into the gate of microfinance. He
is improving his knowledge and skills. So when he
meets the opportunity, he will be embracing it.
Now don't tell me that you are 'orang gak punya'
dengan gaji sejuta, HP Nokia seri N dan
nongkrong-nongkrong di mall... I've seen too much of it.
You gotta come up with better excuses!
You ARE Responsible For Your Own Finances!
Ligwina Hananto
Link | Leave a comment | Add to Memories | Tell a Friend
Fwd: What is a 'man' (Joke)
Sep. 14th, 2007 | 04:28 pm
15 PIECES OF ADVICE TO BE PASSED ON TO YOUR MUM, YOUR DAUGHTERS OR
GRANDDAUGHTERS, NIECES, AUNTS, GIRLFRIENDS, ETC.
1. Don't imagine you can change a man - unless he's in nappies.
2. What do you do if your boyfriend walks out? You shut the door.
3. If they put a man on the moon - they should be able to put them all up
there.
4. Never let your man's mind wander - it's too little to be out alone.
5. Go for the younger man. You might as well, they never mature anyway.
6. Men are all the same - they just have different faces, so that you can
tell them apart.
7. Definition of a bachelor: a man who has missed the opportunity to make
some woman miserable.
8. Women don't make fools of men - most of them are the do-it-yourself
types.
9. Best way to get a man to do something is to suggest he is too old for it.
10. Love is blind, but marriage is a real eye-opener.
11. If you want a committed man, look in a mental hospital.
12. The children of Israel wandered around the desert for 40 years. Even in
Biblical times, men wouldn't ask for directions.
13. If he asks what sort of books you're interested in, tell him cheque
books.
14. Remember a sense of humor does not mean that you tell him jokes, it
means that you laugh at his.
15. Sadly, all men are created equal.
Send this to 5 Bright Women to make their day!
Pass it to a few "good men" too!!
GRANDDAUGHTERS, NIECES, AUNTS, GIRLFRIENDS, ETC.
1. Don't imagine you can change a man - unless he's in nappies.
2. What do you do if your boyfriend walks out? You shut the door.
3. If they put a man on the moon - they should be able to put them all up
there.
4. Never let your man's mind wander - it's too little to be out alone.
5. Go for the younger man. You might as well, they never mature anyway.
6. Men are all the same - they just have different faces, so that you can
tell them apart.
7. Definition of a bachelor: a man who has missed the opportunity to make
some woman miserable.
8. Women don't make fools of men - most of them are the do-it-yourself
types.
9. Best way to get a man to do something is to suggest he is too old for it.
10. Love is blind, but marriage is a real eye-opener.
11. If you want a committed man, look in a mental hospital.
12. The children of Israel wandered around the desert for 40 years. Even in
Biblical times, men wouldn't ask for directions.
13. If he asks what sort of books you're interested in, tell him cheque
books.
14. Remember a sense of humor does not mean that you tell him jokes, it
means that you laugh at his.
15. Sadly, all men are created equal.
Send this to 5 Bright Women to make their day!
Pass it to a few "good men" too!!
Link | Leave a comment | Add to Memories | Tell a Friend
Fwd: Bunga di Ujung Tebing
Sep. 14th, 2007 | 04:22 pm
Bunga Di Ujung Tebing
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan
saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika bersandar di
bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya
harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu
telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan
halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang
menginginkan permen.
Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari
yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.
Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam
pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah
bisa memberikan cinta yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung
sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan
sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah
pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya
pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati
saya, saya akan merubah pikiran saya:
"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah
kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya
esok.". Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas
dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat
yang bertuliskan....
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya
untuk menjelaskan alasannya.".
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk
membacanya kembali.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya
dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya
supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.".
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya
harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan
pintu untukmu ketika kamu pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru
yang kamu kunjungi, saya harus menunggu dirumah agar bisa memberikan mata
saya untuk mengarahkanmu.".
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu'datang setiap bulannya, dan
saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.".
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi
'aneh'. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah
atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami
hari ini.".
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti,
saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.".
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang
bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena
saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.".
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari
saya mencintaimu.". "Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Sayang, aku tidak bisa
menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat
membahagiakanmu.".
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya kembali.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu
puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal
dirumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri
disana menunggu jawabanmu.".
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan
barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah,
bahagiaku bila kau bahagia.".
Saya segera berlari dan membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan
pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya
memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari
dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah
berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat
memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu
sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan
kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu
harus berwujud "bunga".
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan
saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika bersandar di
bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya
harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-2 saya mencintainya dulu
telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif serta berperasaan
halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang
menginginkan permen.
Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari
yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang.
Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam
pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.
Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya,
bahwa saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut. "Saya lelah, kamu tidak pernah
bisa memberikan cinta yang saya inginkan" Dia terdiam dan termenung
sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan
sesuatu, padahal tidak.
Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat
mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah
pikiranmu?".
Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya
pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati
saya, saya akan merubah pikiran saya:
"Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung
dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah
kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya
esok.". Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas
dengan coret-2an tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat
yang bertuliskan....
"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya
untuk menjelaskan alasannya.".
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk
membacanya kembali.
"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya
dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya
supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya.".
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya
harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan
pintu untukmu ketika kamu pulang.".
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru
yang kamu kunjungi, saya harus menunggu dirumah agar bisa memberikan mata
saya untuk mengarahkanmu.".
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu 'teman baikmu'datang setiap bulannya, dan
saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal.".
"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi
'aneh'. Dan aku harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah
atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami
hari ini.".
"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk
kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti,
saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu.".
"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati
matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-2 bunga yang
bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".
"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena
saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku.".
"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari
saya mencintaimu.". "Untuk itu, sayang, jika semua yang telah diberikan
tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. Sayang, aku tidak bisa
menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat
membahagiakanmu.".
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur,
tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya kembali.
"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selesai membaca jawaban saya. Jika kamu
puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal
dirumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri
disana menunggu jawabanmu.".
"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan
barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah,
bahagiaku bila kau bahagia.".
Saya segera berlari dan membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan
pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya
memegang susu dan roti kesukaanku.
Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari
dia mencintaiku. Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah
berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat
memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu
sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan
sebelumnya.
Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan
kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu. Karena cinta tidak selalu
harus berwujud "bunga".
Link | Leave a comment | Add to Memories | Tell a Friend
Fwd: How Business is Done
Sep. 7th, 2007 | 05:30 pm
(To follow-up on three envelops story, here is another favorite in the
same genre. It has been an inspiration for me.)
Jack, a smart businessman, talks to his son.
Jack : I want you to marry a girl of my choice
Son : "I will choose my own bride!"
Jack : "But the girl is Bill Gates's daughter."
Son : "Well, in that case..."
Next Jack approaches Bill Gates.
Jack : "I have a husband for your daughter."
Bill Gates : "But my daughter is too young to marry!"
Jack : "But this young man is a vice-president of the World Bank."
Bill Gates : "Ah, in that case..."
Finally Jack goes to see the president of the World Bank.
Jack : "I have a young man to be recommended as a vice-president."
President : "But I already have more vice- presidents than I need!"
Jack : "But this young man is Bill Gates's son-in-law."
President : "Ah, in that case..."
same genre. It has been an inspiration for me.)
Jack, a smart businessman, talks to his son.
Jack : I want you to marry a girl of my choice
Son : "I will choose my own bride!"
Jack : "But the girl is Bill Gates's daughter."
Son : "Well, in that case..."
Next Jack approaches Bill Gates.
Jack : "I have a husband for your daughter."
Bill Gates : "But my daughter is too young to marry!"
Jack : "But this young man is a vice-president of the World Bank."
Bill Gates : "Ah, in that case..."
Finally Jack goes to see the president of the World Bank.
Jack : "I have a young man to be recommended as a vice-president."
President : "But I already have more vice- presidents than I need!"
Jack : "But this young man is Bill Gates's son-in-law."
President : "Ah, in that case..."
